Filed under: catatan saya | Tags: anak, autis, pendidikan, pendidikan anak, sosial
Seorang teman pecinta film meminjamkanku sebuah film
ADAM judulnya, seorang dengan sindrom Asperger yang kesepian.
aku tak melewatkan tiap detik dan tiap momen film ini
karena apa yang dialami dan dirasakan Adam, aku tahu sekali
seorang mantan murid menyerupai dengan Adam
dan aku tahu tak mudah baginya melalui masa sekolah, apalagi beranjak dewasa
kini aku kembali pada hidupku
anakku memang bukan asperger, dan dia bukan Adam
walau mungkin mereka memiliki bias-bias spektrum yang ada di Autism Spectrum Disorder
memandanginya dan becermin pada apa yang dialami Adam, (more…)
Filed under: catatan saya
Saya bekerja di sebuah lembaga kebudayaan, di mana ada teman-teman pertukaran beasiswa dari seluruh Indonesia, yang menurut saya sangat amat beruntung. Mereka mendapatkan gelar S2 dari universitas di kota saya dan setelah belajar bahasa di tempat saya bekerja dan terseleksi, mereka akan berangkat ke negara donor , menempuh pendidikan dan mendapatkan gelar S2 yang lain dari negara tersebut.
Hmmmm…dari dulu saya menunggu-nunggu kesempatan itu datang….
Betapa beruntungnya orang yang mendapat kesempatan gratis untuk melanjutkan pendidikan di saat dunia mematok harga tinggi untuk segala pembiayaannya.
Namun….
sebuah berita mengusik telinga saya. baca kelanjutannya
Filed under: catatan saya
Saya mantan guru namun bukan mantan orang tua. Saya tetap orang tua seorang putra yang istimewa dalam dunia psikologi dan sekolah karena belum ada sulit banget mencari institusi yang mampu menerima dan mendidik anak saya sesuai dengan kebutuhannya yang memang khusus.
Namun bukan itu yang ingin saya utarakan kali ini….
Pagi…ketika karyawan bergegas ke kantor dan murid tergesa ke sekolah…
3 abg berkendara motor, salah satunya mencoba memaksa menelusup di sela mobil saya dan tembok pembatas jalan. Alhasil…seorang bapak pengendara yang sabar menunggu di tepian, menjadi terusik marahnya… Meluncurlah kata-kata dalam bahasa lokal untuk memperingati pelaku. Saya pun membuka jendela, “Mundur dulu ya…De!”
Tanpa menatap, dia memundurkan motornya tanda tak senang. baca kelanjutannya
Filed under: turun langsung | Tags: agama Buddha, partisipasi, sosial, world silent day
Cuaca makin panas, jelas! Semakin banyak bersliweran di jalan tukang servis AC yang laku jasanya. Di toko-toko pun varian kipas angin makin banyak untuk dipilih. Namun apakah kesadaran tentang peningkatan suhu bumi ini menggugah kita untuk mendukung World Silent Day 21 Maret? Nanti dulu….
Seorang bapak tinggi besar, sebut saja Wen asal Tabanan mengungkapkan ide yang menurutnya lebih bermanfaat. “Harusnya PLN Pusat mematikan listriknya 4 jam di seluruh Indonesia. Jadi yah orang mau nggak mau tidak menggunakan listrik. Kalau perlu advokasi ke SBY…karena kalau pemimpinnya concern mengenai hal ini, dia akan menginstruksikan pemadaman listrik serentak setiap 21 Maret!”
Tapi…coba kita telusuri bila usul tersebut dijalankan. baca selengkapnya
Filed under: ngalamin sendiri | Tags: kendaraan, perempuan, pola pikir, publik, remaja, sopan santun, sosial
Saya kapok belajar motor. Bekas luka bakar didekat mata kaki telah mengurangi keseksian kaki saya. Namun, tinggal di Bali di mana angkot hanya beroperasi di area terbatas, ketidakmampuan berkendara Honda (sebutan untuk motor di Bali) kemudian menjadi hambatan terbesar untuk beraktivitas.
Tumbuh dan besar di Jakarta dengan segala jenis dan bentuk kendaraan umum, menjadikan saya gagap mengemudikan motor. (mungkin juga berlaku untuk semua perempuan yang tumbuh di kota besar). Lebih PD naik bajaj atau berdesakan di metromini atau bis daripada menyalip semua itu dengan motor. Nah begitu pindah ke Bali…nggak bisa naik motor sama dengan nggak bisa ke mana-mana.
Untung saya bisa menyetir. Biar musti belajar lancar (istilah untuk kursus dan tambahan latihan sendiri)…toh akhirnya kemana-mana saya ditemani si Hitam aka mobil saya. Biar belum semahir sopir angkot atau bis malam, yah minimal si kecil dan omanya merasa aman kalo disupirin saya…..:-)
Tapi….jalanan Bali sudah kayak rimba. Tempat belantara anak ingusan belajar Honda, sampai ibu-ibu yang akrobatik bawa dagangan sekalian anak-anaknya. Pfuhhhh…kalau nggak lihai menyalip, pintar nge-rem dan yang paling utama…pintar menahan emosi, UGD sudah menanti. Makanya…klakson tiba-tiba jadi jimat segala bencana….
Ada ibu menganan-nganan (maksudnya naik motor senengnya di posisi sebelah kanan)…klakson
Ada cewek sibuk handphonan sambil naik motor….klakson
Ada anak-anak naik sepeda ke kiri dan ke kanan asik lenggang lenggok….klakson
Ada ibu keluar gang, nyelonong saja….klakson baca selanjutnya



